Saturday, 17 December 2011

there is a star, when the rain is falling [part I]

author : salsabilaa
cast : Ayumi Takashi, Sinichi Kendo, Kira Yamamoto, Sakura Mashiotara
genre : friendship, romance
rating : PG-13

mm-hmm, my first KB . ide cerita dari.. ehm, gini lho . saya dulu punya cowok -sekarang mah mantan . nah, si mantan saya ini suka sama bintang, sedangkan saya suka hujan . bintang sama hujan kan nggak bisa nyatu tuh, lucu aja kita jadian . trus, baca novel yang ceritanya mirip-mirip saya sama mantan . kalo nggak salah judulnya.. "not just a fairy tale" . lucu :) eh, tapi bukannya saya nyontek ide lhoo . HATE PLAGIAT [!]
oiyaaa, bukannya saya masih ngarep sama mantan . itu sudah berlaluuuuuuu :)
sudah sudah . sebelumnya, gomen kalo jelek, ini kan yang pertama :)
check it out !







------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“ami-chan, apa yang sedang kau lakukan?”
“aku sedang melihat hujan, ichi-kun,”
“memangnya apa bagusnya hujan?”
“kau tidak tahu? Coba lihat! Betapa menakjubkannya hujan. Jutaan rintik air jatuh begitu saja secara bersamaan. Lalu, bau hujan sangat.. sangat menenangkan,”
“bukankah kita baru berusia 6 tahun? Darimana kau mendapat kalimat seperti itu?”
“dari buku..”                                           
“mm-hmm. Tentu saja. Kau suka membaca..”
“jadi?”
“apa? Aku tidak suka hujan,”
“kenapa?”
“karena hujan, bintang menjadi tidak terlihat..”

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
10 tahun kemudian, di salah satu ruangan SMA Sakuragi, Tokyo..

“Sinichi! Apa kau sudah dengar berita bagus?”
“apa?” anak bernama Sinichi Kendo itu terlihat tidak bersemangat.
“sekolah kita akan kedatangan murid baru!”
“apa bagusnya, Yamamoto?”
“kau ini! Katanya, murid kali ini seorang siswi cantik pindahan dari London!”
“mm-hmm..”
“dan katanya, siswi itu akan masuk di kelas kita!”
“mm-hmm..”
“kau payah! Dari tadi hanya mm-hmm, mm-hmm. Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Ah! Aku tahu. Besok tanggal 1 November. Kau pasti memikirkan teman kecilmu itu bukan? Sudahlah, bukankah ini sudah tahun ke-10? Lagipula kau bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Di sekelilingmu banyak gadis cantik. Kau tidak perlu memikirkan orang yang belum tentu memikirkanmu. Lagipula, kau lumayan tampan, walau masih tampan aku. Kalau kau mau, kau bisa berkencan dengan Mia Sanaka dari 2-1!”
“kau cerewet, Kira Yamamoto. Asal kau tahu, semua pasti sepakat kalau aku jauh lebih tampan darimu. Pergi sana!”
Karena orang yang kau pikirkan belum tentu memikirkanmu..
Mendengar ucapan Kira membuat Sinichi sadar. Benar. Tidak seharusnya aku terus-terusan memikirkan hal tak penting di masa kecilnya..
---
“Tadaima!”
“kau sudah pulang Ichi. Cepat ganti baju. Ayo makan bersama ibu dan Chiro!”
“Baik, Bu,”
 “Ayah kapan pulang?” tanya Chiro, adik laki-laki Sinichi.
“Ayahmu akan pulang nanti malam. Kau tahu sendiri, sudah menjadi tanggung jawab ayahmu untuk ikut serta seminar tentang perabotan atau apalah itu,” Takashima Kendo, 45 tahun, ayah Sinichi, adalah seorang arsitek yang terkenal di kalangan pertisius Jepang. Sedangkan ibu Sinichi adalah Mizuki Kendo. Wanita berusia 40 tahun yang bekerja sebagai penulis. Keluarga Kendo hidup berkecukupan di salah satu sudut kota Tokyo.
Selesai makan, Sinichi naik dan mempelajari pelajaran yang baru saja di sekolah. Dia bukan murid yang rajin, dia hanya belajar jika ingin-tentu saja dia jarang ingin belajar-jika ada PR, dan jika besok ulangan. Namun, nilai-nilai yang dia dapatkan cukup untuk membuat peringkatnya berada di sekitar angka 1-5. Dengan peringkat yang bagus, wajah tampan, tubuh yang atletis, membuat Sinichi cukup populer di kalangan para siswi. Tapi, tak satupun dari para siswi yang catik itu dapat membuatnya jatuh hati. Entah mengapa, hingga sekarang dia selalu terbayang anak perempuan cantik teman masa kecilnya.

“ichi-kun, kau mau mengajariku memanjat pohon?”
“untuk apa? Kau ini anak perempuan,”
“aku tahu. Tapi aku iri sekali melihatmu bisa memanjat pohon,”
“aku tidak iri melihatmu pintar merangkai bunga,”
“untuk apa kau iri? Kau anak laki-laki,”
“ha! Kau tahu itu. Lagipula, bagaimana aku mengajarimu?”
“tunjukkan saja bagaimana caramu meraih dahan, menjejakkan kaki, dan lainnya..”
“baiklah. Begini caranya..”
--
Sinichi terbangun setelah mendengar kokok keras ayam jantan yang berasal dari jam bekernya. Setelah benar-benar bangun, dia mandi kemudian memakai seragam sekolahnya. Dia keluar kamar sambil melirik jam bekernya. 6 am. Rupanya dia bangun terlalu pagi. Dia biasa mulai sarapan pukul 6.15 kemudian pukul 6.30 pergi ke sekolah. Tak apalah, daripada terlambat bangun.
---
“Ayumi Takashi! Wake up! Apa kau ingin terlambat pada hari pertamamu?!”
“Hmmph.. akuh mengyantukh, Ibu.. Hoaaammmm..”
“Sudah jam 6! Bangun kubilang!”
30 menit kemudian, Ayumi Takashi sudah siap untuk berangkat sekolah. Wajahnya yang cantik tampak manis dengan seragam barunya. Setelah berpamitan pada kedua orangtuanya, dia melangkah riang. Perlahan ia menarik napas dan menghembuskannya. Udara pagi kota Tokyo, pikirnya. Sudah banyak yang berubah dari ibukota Jepang ini. Sudah berapa lama aku meninggalkan kota ini? 5 tahun? 10 tahun? Ah, apakah dia masih ingat denganku?
Ayumi terus melangkah sambil melamunkan masa kecilnya di Tokyo. Tanpa sadar, dia menabrak seorang pejalan kaki lain.
“I’m sorry, saya tidak sengaja. Maafkan saya,” ucapnya dengan logat asing.
“tak apa. Sebaiknya kau berhati-hati jika berjalan,” orang yang dijawabnya langsung menyahut sambil berbalik menghadapnya.
“sekali lagi maafkan saya,” ucap Ayumi sambil berojigi. Ketika berdiri lagi, dia melihat orang yang ditabraknya sedang memperhatikannya.
“what’s up? Mm, ada yang salah?” tanya Ayumi langsung.
“iie. Mm, apakah kau siswi SMA Sakuragi?”
“Begitulah. Tapi aku pindahan. Hari ini hari pertamaku,”
“Pantas saja aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Aku siswa SMA Sakuragi juga,” kata anak laki-laki seumurannya sambil menunjuk badge di seragamnya.
“That’s good. Bagaimana kalau kita berangkat bersama?” tanya Ayumi semangat mengetahui anak laki-laki di hadapannya adalah siswa SMA Sakuragi.
“Benar. Ayo jalan. Kau tentu tak ingin terlambat di hari pertamamu bukan?”
“Of course..”
“Hey, siapa namamu?”
“Ayumi Takashi. Kau?”
“Sinichi Kendo..”
--
“Minna-san, seperti yang kalian ketahui, hari ini kelas 2-4 kita kedatangan murid baru. Dia pernah tinggal di Jepang tapi beberapa tahun yang lalu pindah ke London. Silahkan perkenalkan dirimu,” Sunabe-sense, guru bahasa Inggris sekaligus wali kelas 2-4 berdiri di depan kelas bersama seorang gadis cantik.
“Ohayou gozaimasu. Hajimimasite. Watashi wa Ayumi Takashi-desu. Seperti yang dijelaskan Mr. Sunabe, I’m from Japan. Tapi saya sekeluarga pindah ke London sepuluh tahun yang lalu. Mohon maaf jika dalam berbicara, masih bercampur dengan bahasa Inggris. Jadi, saya mohon bantuannya. Douzo yoroshiku onegaisimasu..” Ayumi menyudahi perkenalan singkatnya dengan berojigi.
“Jadi begitu, minna-san. So, please help her in our school. Takashi, kau bisa duduk di meja sebelah jendela itu. Alright. Let’s start our subject..”
Ayumi duduk dan memperhatikan sekelilingnya. Beberapa langkah dari bangkunya, Ayumi melihat Sinichi Kendo sedang melihat ke arahnya. Dengan tersenyum, Ayumi melambaikan tangan.
--
“Jadi sebelum tinggal di London kau tinggal di Tokyo?”
“Yeah. Aku lahir di Indonesia, karena ibuku orang Indonesia. Lalu ketika berumur 4 tahun aku pindah ke Tokyo. Tapi itu sudah lama sekali. Aku tidak ingat di daerah mana dulu aku tinggal,” Ayumi dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman barunya. Mereka dengan antusias berkenalan dengannya. Tentu saja, dengan embel-embel ‘dari London’ membuatnya jadi bahan pembicaraan di seluruh sekolah.
--
“Sakura, kau mau menunjukkan jalan ke kantin padaku?” tanya Ayumi pada gadis yang duduk di bangku sampingnya.
“Tentu saja. Kau terlihat lapar,”
“Mm. Padahal tadi pagi aku sarapan banyak. Apa karena sepagian ini aku menjawab pertanyaan anak-anak?”
“Mungkin,”
Ayumi memperhatikan gadis yang berjalan di sampingnya. Sakura Mashiotara. Manis dan berkacamata. Bertubuh langsing, tapi tidak terlalu tinggi. Lebih tinggi Ayumi sekitar 10cm. Dia terlihat baik, pikir Ayumi.
“Hah, pasti mereka lagi,” Sakura bergumam.
“What’s up?” tanya Ayumi.
“bukan apa-apa. Hanya segerombolan siswi tidak jelas,” jawaban Sakura membuat Ayumi menaikkan alis. Tampak sekelompok siswi sedang berusaha menarik perhatian seorang siswa yang sedang makan bersama temannya.
“Bukankah itu Sinichi?” Ayumi menunjuk siswa yang sedang makan bersama temannya.
“Iya, Ayumi. Dia Kendo,”
“Kalau begitu, ayo makan bersamanya,” Ayumi membeli makanan, dan berjalan menuju meja Sinchi.
“Hai, Sinichi! Hai, Yamamoto! Bolehkah kami makan bersama kalian?”
“Tentu saja. Silahkan duduk, Takashima, Mashiotara,” jawab Kira ramah sedangkan Sinichi hanya tersenyum dan mengangguk.
Mereka berempat makan sambil berbincang riang. Tampak jelas murid-murid lain penasaran dengan ‘anak dari London’. Apalagi gerombolan siswi yang sebelum kedatangan Ayumi sedang menarik perhatian Sinichi. Beberapa dari mereka terlihat jengkel.
“Siapa sih dia? Sok akrab dengan Kendo..”
“Dia anak dari London itu. Memangnya kenapa kalau dia dari London? Bukankah dia juga orang Jepang? Bahkan katanya dia kelahiran Indonesia! Bukankah itu negara yang sering terjadi bencana? Dengan sesuka hatinya dia duduk bersama Kendo!”
“Benar! Enak saja dia dengan mudahnya menyerobot idola kita!”
“Ashuma, kau harus melakukan sesuatu!”
“Tenang saja. Aku akan membuatnya tidak bertindak seenaknya sendiri,” gadis manis bernama Rizuki Ashuma tersenyum licik sambil melirik ke arah Ayumi.
--
“Mom, aku pulang!”
“Bagaimana hari pertamamu?”
“Fine. Mereka semua baik dan menyenangkan,”
“Tentu saja. Kau pikir mereka akan mengucilkanmu?”
“Bukan begitu, Mom..”
“Yeah. I know,”
“Where is dad?”
“Ayahmu sedang pergi ke proyek barunya di daerah Nagoya. Bersama arsitek dari Tokyo,”
“Baiklah. Aku naik dulu, Mom,”
“Ya. Segera ganti baju lalu makan siang,”
“Okay,”
Seusai makan siang, Ayumi ingin berjalan-jalan di sekitar tempat tinggal barunya. Setelah meminta izin kepada ibunya, dia mengeluarkan sepeda mini-nya dan mulai mengayuh di jalanan. Tak jauh dari rumahnya, seseorang menyerukan namanya,
“Takashi!” Ayumi mengerem sepedanya dan melihat Kira Yamamoto berlari ke arahnya.
“Hi, Kira!”
“Hi, Takashi. Apa kau sedang berkeliling?”
“Begitulah. Kau?”
“Rumahku di sekitar sini. Tadi aku hanya ingin mencari udara segar,”
“Bagaimana kalau kau menemaniku mengelilingi kota Tokyo? Aku sudah lama tidak menjelajahi kota ini..”
“Ide yang bagus. Kalau begitu biar aku yang memboncengkanmu,”
Akhirnya Ayumi duduk manis di boncengan sepeda Kira. Mereka tidak berkeliling terlalu jauh, hanya di sekitar kompleks perumahan mereka. Tiba-tiba, melintas Sinichi Kendo di bayangan Ayumi.
“Kira, apakah kau tahu rumah Sinichi?”
“Tentu saja. Aku kan sahabatnya,”
“Dimana?”
“Tidak terlalu jauh dari kompleks kita. Mungkin hanya sekitar 200 meter,”
“Bisakah kau mengantarku ke sana?”
“Untuk apa?”
“Aku hanya ingin melihat. Cukup melintas saja..”
“Hmm.. Baiklah,”
Tak lama, mereka memasuki jalanan rumah Sinichi. Entah mengapa, pikiran Ayumi melayang ke 10 tahun yang lalu..
“ami-chan, bagaimana kalau kita bermain petak umpet?”
“tidak mau,”
“kenapa?”
“Kau bilang rumahmu di sekitar sini. Tentu kau sangat mengenal daerah sini. Sedangkan aku?”
“tapi bukankah kau beberapa kali bermain di sini?”
“Tidak mau. Aku tidak suka bermain petak umpet,”
“kenapa?”
“aku tidak suka sendiri..”

“Takashi! Halooo..”
“Ah! What’s up, Kira?”
“Kau melamun?”
“Mm, hanya teringat sesuatu,”
“Mm-hmm.. liat itu! Rumah bercat putih itu adalah rumah Sinichi,”
“Yang berpagar hitam itu?”
“Benar. Ayah Sinichi adalah arsitek. Maka jangan heran kalau rumahnya bagus,”
“Rumahnya memang bagus. Terlihat asri dan nyaman,”
“Memang rumahnya sangat nyaman. Aku selalu betah bermain di sana. Apakah kau ingin mampir?”
“Tidak perlu. Sebaiknya kita segera pulang jika tidak ingin aku dimarahi ibuku,”
“Baiklah,” Kira mengayuh sepeda menjauhi kompleks rumah Sinichi. Sepanjang perjalanan pulang, Ayumi terus-menerus memikirkan kenapa kenangan masa lalunya muncul saat dia memasuki jalanan rumah Sinichi.
“Hey, Takashi. Dimana rumahmu?”
“Lurus saja. Nanti ada rumah putih pagar hitam di pojokan, itulah rumahku,”
“Itu?”
“Benar.
Nah, kita sampai! Terima kasih telah menemaniku bersepeda. Arigatou gozaimasu,” ucap Ayumi sambil berojigi.
“Iie. Kalau begitu aku pulang dulu. Daaah..”
“Bye,”
Ayumi segera masuk ke halaman rumahnya. Dia meletakkan sepeda di garasi. Lalu melangkah ke halaman samping. Di sana ada sebuah pohon jambu yang rindang. Dengan mudah, Ayumi memanjat pohon itu dan duduk di salah satu dahannya.
--
“Ichi, sampai kapan kau duduk melamun di pohon seperti  itu? Lebih baik kau membantu ibu menyiram tanaman,”
“Memangnya sekarang jam berapa?”
“Sudah pukul 4pm. Ada apa?”
“Tak apa-apa,”
“Kalau begitu cepat bantu Ibu menyiram tanaman. Bukankah kau tidak suka hujan? Maka kau harus bersyukur karena hujan tidak turun dengan membantu Ibu menyiram tanaman,”
“Apa hubungannya, Ibu?”
“Sudah tidak usah cerewet. Cepat bantu ibu..”
--

-to be continue-

gimana-gimana ?
bagus ? jelek yaaaaaaaach ? :(
mm-hmm.. bagus ato nggak, saya lanjut nge-post part selanjutnya aja yaa
hehehehe *tidak tahu diri

Thursday, 2 September 2010

Harry Potter 7 , kawaaaan .. :))

Harry Potter dan Relikui Kematian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Harry Potter dan Relikui Kematian
Harry potter deathly hallows US.jpg
Penulis J. K. Rowling
Judul asli Harry Potter dan Relikui Kematian
Penerjemah Listiana Srisanti
Ilustrator • Mary GrandPré (Amerika Serikat, RI)
• Jason Cockcroft (UK)
William Webb dan Michael Wildsmith (UK adult)
Negara Inggris Raya
Bahasa Bahasa Indonesia
Serial Harry Potter
Genre Fiksi, Fantasi
Penerbit Gramedia (Indonesia)
Bloomsbury Publishing PLC (Britania Raya), Scholastic Press (AS)
Tanggal terbit 13 Januari 2008 (hardcover), 26 Januari 2008 (softcover)
Terbitan dalam Bahasa Inggris 21 Juli 2007
Halaman 608 (Britania Raya), 759 (AS)
Seri sebelumnya Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran
Seri lanjutan tidak ada

Harry Potter dan Relikui Kematian (Inggris: Harry Potter and the Deathly Hallows) adalah buku ketujuh dan terakhir dari seri novel Harry Potter oleh J. K. Rowling.

Versi terjemahan dalam bahasa Indonesia ini akan diterbitkan dalam versi hardcover dan softcover, masing-masing pada 13 dan 26 Januari 2008.[1] Sebelumnya, versi bahasa Inggris Deathly Hallows, diluncurkan secara serentak di seluruh dunia di 93 negara[2], pada tanggal 21 Juli 2007, satu menit setelah tengah malam (00:01), British Summer Time.

Judul buku ini diumumkan pada 21 Desember 2006 melalui situs web Rowling, dan dikonfirmasikan tak lama kemudian oleh penerbitnya.[3] Rowling menyatakan bahwa seri terakhir ini berkaitan erat dengan buku sebelumnya, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, yang menurutnya "hampir seperti dua bagian dari satu novel".[4] Rowling meninggalkan sebuah pernyataan yang ditandatangani, tertulis di sebuah patung dada pualam di Hotel Balmoral, Edinburgh, yang menyatakan;

"JK Rowling telah selesai menulis Harry Potter and the Deathly Hallows di ruangan ini (652) pada 11 Januari 2007."[5]

Dalam situsnya pada 6 Februari 2007, Rowling menyatakan

"Walaupun saya menyukai setiap buku Potter sebelumnya, 'Deathly Hallows' adalah favorit saya, dan ini adalah sebuah cara yang sangat menyenangkan untuk menyelesaikan serial ini."[6]

Buku ini mendapat predikat best-seller di Amazon dan Barnes and Noble hanya beberapa jam setelah tanggal peluncurannya diumumkan.[7]

Daftar isi

Ringkasan cerita

Meninggalkan rumah Dursley

Harry Potter memasuki umur 17 tahun di mana ia mencapai umur kedewasaan secara dunia sihir. Sebelum berumur 17 tahun, Harry masih terlindung dari Voldemort selama ia tinggal di rumah keluarga Dursley yang memiliki pertalian darah dengannya. Dengan memasuki umur kedewasaannya, mantera itu akan terangkat dengan sendirinya dan mengharuskan Harry untuk melindungi dirinya sendiri.

Atas informasi dari Severus Snape, Lord Voldemort dan para pengikutnya mengetahui informasi mengenai akan terangkatnya mantera perlindungan ini dan berencana untuk menyergap Harry ketika ia akan meninggalkan rumah keluarga Dursley. Voldemort juga sedang mencari tongkat sihir baru yang dapat mengatasi tongkat sihir Harry. Sesaat sebelum mantera perlindungan Harry berakhir, keluarga Dursley diamankan ke tempat yang dirahasiakan, dan beberapa anggota Orde Phoenix tiba untuk mengawal Harry ke tempat yang aman. Enam orang menyamar sebagai Harry, tapi Harry yang asli ketahuan dalam perjalanan dan diserang oleh Voldemort dan para Pelahap Mautnya. Harry berhasil melarikan diri ke rumah keluarga Weasley, the Burrow, tapi Hedwig dan Mad-Eye Moody terbunuh dalam pertempuran.

Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir Rufus Scrimgeour tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Deluminator untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan/menyalakan cahaya); buku mengenai kisah anak-anak sihir untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan Snitch pertama yang ditangkap Harry dalam pertandingan Quidditch pertamanya. Namun demikian, pedang Gryffindor ditahan oleh Menteri Sihir, karena kementerian berpendapat bahwa pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore. Belakangan, dari Snitch itu muncul sebuah petunjuk yang ditulis oleh Dumbledore: "Aku membuka pada penutup" (bahasa Inggris: "I open at the close"). Walaupun ketiganya belum dapat mengetahui mengapa Dumbledore meninggalkan masing-masing mereka benda-benda tersebut, mereka mempercayai bahwa benda-benda itu dimaksudkan entah bagaimana untuk membantu mereka menemukan [horcrux-horcrux] Voldemort.

Pencarian Horcrux

Dalam resepsi pernikahan Bill Weasley dan Fleur Delacour, Patronus dari Kingsley Shacklebolt muncul dengan peringatan bahwa Kementerian Sihir telah jatuh dan para Pelahap Maut sedang mendatangi mereka. Harry, Ron, dan Hermione melarikan diri dengan berdisapparate, dan akhirnya berlindung di markas besar Orde Phoenix yang telah ditinggalkan di Grimmauld Place nomor dua belas, rumah yang diwarisi Harry dari Sirius Black. Di rumah ini, Harry mendapati bahwa ternyata adik Sirius, Regulus yang tewas oleh Voldemort, memiliki nama Regulus Arcturus Black yang berinisial sama dengan "R.A.B." yakni orang yang mengambil Horcrux liontin Salazar Slytherin dari gua pinggir laut yang tersembunyi.[HP6] Hermione teringat pernah melihat sebuah liontin di antara barang-barang milik Kreacher, peri rumah di tempat itu. Kreacher merujuk Mundungus Fletcher yang mengakui telah mencuri liontin itu dari si peri rumah dan menggunakannya untuk menyogok Dolores Umbridge. Yakin bahwa liontin itu salah satu Horcrux yang sedang mereka cari, ketiganya memasuki Kementerian Sihir menggunakan samaran Ramuan Polijus. Mereka berhasil mengambil liontin itu dari leher Umbridge tanpa disadarinya, tapi tempat persembunyian mereka di Grimmauld Place berhasil diketahui musuh.

Ketiga sahabat itu melarikan diri. Mereka tidak berhasil membuka apalagi menghancurkan liontin itu, dan bergantian memakai liontin itu untuk menjaganya. Mereka juga berhasil mengetahui bahwa pedang "warisan Dumbledore" yang ditahan oleh kementerian sebenarnya adalah pedang tiruan; dan bahwa pedang Gryffindor yang aslilah yang dapat menghancurkan Horcrux-Horcrux itu. Harry hendak mencari pedang itu, tapi Ron, yang khawatir akan keamanan keluarga dan kecewa karena ternyata Harry tidak memiliki rencana apa pun dari Dumbledore, meninggalkan Harry dan Hermione. Keduanya kemudian pergi ke Godric's Hollow untuk mencari pedang itu. Di sana, mereka disergap oleh Voldemort dan Nagini. Ketika mereka berhasil melarikan diri, Hermione tanpa sengaja mematahkan tongkat sihir Harry.

Di Hutan Dean, Harry melihat sebuah Patronus berbentuk Rusa betina di dekat tempat mereka berkemah. Patronus itu membawanya ke sebuah kolam es berisikan pedang Gryffindor. Ketika Harry berusaha untuk menyelam ke dalam kolam es untuk mengambil pedang tersebut, Horcrux liontin yang dikenakannya tiba-tiba mengetat dan berusaha mencekik lehernya. Ron, yang menggunakan Deluminator untuk mencari Harry dan Hermione, tiba dan berhasil menyelamatkan Harry dari tenggelam di kolam itu, mengambil pedang, dan kemudian berhasil menghancurkan liontin itu. Ron memperingatkan Harry dan Hermione bahwa nama Voldemort sekarang telah menjadi dimanterai Tabu - sehingga orang yang berani menyebut nama itu akan menyebabkan tempatnya bersembunyi akan tersingkap..

Relikui Kematian

Simbol Relikui Kematian (the Deathly Halows)

Ketiga sahabat pergi mengunjungi Xenophilius Lovegood, ayah Luna, untuk menanyakan mengenai simbol yang pernah mereka lihat digunakan oleh Xenophilius dan simbol yang sama dengan simbol yang ada di buku anak-anak milik Hermione. Lovegood menyatakan bahwa simbol itu adalah simbol dari Relikui Kematian (the Deathly Hallows), tiga benda legendaris yang dapat menaklukkan kematian: Tongkat sihir Elder (Elder Wand), Batu Kebangkitan (Resurrection Stone), dan Jubah Gaib. Ketika ditekan mengenai keberadaan Luna, Lovegood mengakui bahwa para Pelahap Maut telah menculik putrinya; dan bahwa ia juga telah memberitahu Kementerian Sihir (yang telah dikontrol oleh para Pelahap Maut) mengenai keberadaan ketiganya; namun mereka berhasil melarikan diri.

Beberapa pemburu harta karun menangkap ketiganya di perkemahan mereka setelah Harry secara ceroboh menyebut nama Voldemort. Mereka dipenjarakan di rumah keluarga Malfoy, bersama-sama dengan Luna Lovegood, Dean Thomas, Ollivander si pembuat tongkat sihir, dan goblin Griphook. Ketika menemukan pedang Gryffindor di antara milik mereka, Bellatrix Lestrange mencurigai bahwa mereka telah mencuri masuk ke tempat penyimpanan miliknya di Bank Gringott. Bellatrix menyiksa Hermione untuk mendapatkan informasi. Dobby berapparate ke penjara bawah tanah tempat mereka semua disekap dan menyelamatkan mereka. Petter Pettigrew turun ke bawah tanah untuk menyelidiki kegaduhan dan mencekik Harry, yang mengingatkan bahwa Pettigrew berhutang nyawa kepadanya.[HP3] Cengkeraman Pettigrew melemah, tangan peraknya terlepas dan mencekik tuannya sendiri sampai mati sebagai balasan hutang nyawa itu. Harry dan Ron berlarian menaiki tangga untuk menyelamatkan Hermione. Ron melucuti Bellatrix sementara Harry mengalahkan dan mengambil tongkat sihir Draco. Dobby muncul kembali dan mereka berempat berapparate ke rumah Bill dan Fleur Weasley. Sesaat sebelum mereka menghilang, Bellatrix melemparkan pisau dan secara fatal menembus tubuh Dobby.

Di kediaman Bill, Ollivander membenarkan akan keberadaan Tongkat Elder itu. Ia juga mengungkapkan bahwa sebuah tongkat sihir dapat memilih untuk berganti ke tuan yang baru jika pemiliknya dikalahkan atau dilucuti. Tindakan Bellatrix meyakinkan ketiga sahabat itu bahwa ada Horcrux lain yang disembunyikan di lemari besi Lestrange. Dengan bantuan Griphook, mereka memasuki Gringotts dan berhasil mengambil Horcrux yang lainnya, Piala Helga Hufflepuff. Griphook mencuri pedang Gryffindor, karena menganggap bahwa pedang itu sesungguhnya adalah milik kaum Goblin, dan ketiga sahabat berhasil melarikan Horcrux Piala itu. Dengan kejadian ini, Voldemort, yang berhasil mencuri Tongkat Elder dari makam Dumbledore, menyadari sepenuhnya bahwa Harry Potter dan sahabat-sahabatnya sedang mencari dan menghancurkan Horcrux-Horcruxnya. Secara tidak sengaja, pikiran Harry terhubung dengan pikiran Voldemort yang mengungkapkan bahwa ada satu lagi Horcrux yang disembunyikan di Hogwarts. Harry segera menyadari bahwa Horcrux di Hogwarts ini adalah Mahkota Rowena Ravenclaw.

Pertempuran Hogwarts

Di Hogsmeade, Aberforth Dumbledore membantu Harry, Ron, dan Hermione untuk menyelinap masuk ke Hogwarts. Harry memperingatkan para staf pengajar Hogwarts bahwa Voldemort akan segera datang menyerbu. Orde Phoenix, Laskar Dombledore, para pelajar, dan banyak alumni Hogwarts tiba di sana ketika para pengikut Voldemort tiba menyerang. Pertempuran ini memakan banyak korban, di antaranya adalah Fred Weasley, Remus Lupin, Nymphadora Tonks, dan Colin Creevey. Sementara Harry mencari Horcrux Mahkota itu, Ron dan Hermione memasuki Kamar Rahasia untuk mengambil taring ular Basilisk yang dahulu dibunuh oleh Harry.[HP2] Hermione menggunakan taring itu untuk menghancurkan Horcrux Piala Hufflepuff. Dalam pencarian itu, Harry kemudian teringat bahwa ia pernah melihat Mahkota itu di Kamar Kebutuhan. Di kamar itu, ketiganya diserang oleh Malfoy, Crabbe, dan Goyle. Crabbe mempergunakan mantera Fiendfyre yang sangat kuat yang malah membunuh dirinya sendiri dan juga menghancurkan mahkota itu.

Pikiran Harry terhubung dengan pikiran Voldemort kembali, dan ketiganya segera pergi ke Shrieking Shack. Mereka mendengar Voldemort memberitahu Snape bahwa Tongkat Elder tidak dapat digunakannya dengan baik dikarenakan Snape telah menjadi tuan atas Tongkat itu setelah Snape membunuh pemilik Tongkat itu sebelumnya, Albus Dumbledore.[HP6] Voldemort yakin bahwa dengan membunuh Snape maka Tongkat itu akan menjadi miliknya seutuhnya. Ia menyuruh Nagini untuk membunuh Snape, kemudian pergi ke Hogwarts. Ketika Snape sedang jatuh sekarat, ia memberikan Harry memorinya. Memori ini kemudian mengungkapkan bahwa Snape, sekalipun tidak sepenuhnya baik, adalah orang yang setia kepada Dumbledore, didorong oleh cinta seumur hidupnya kepada ibu Harry, Lily Potter. Dumbledore, yang hidupnya sudah tidak lama lagi akibat kutukan yang mengenainya dari Horcrux Cincin Gaunt, telah menyuruh Snape untuk membunuh Dumbledore bila perlu, untuk melindungi peranan Snape dalam Orde Phoenix dan juga untuk menggantikan Draco Malfoy yang ditugasi Voldemort untuk membunuh kepala sekolahnya. Adalah Snape juga yang mengirimkan Patronus Rusa betina yang mengantar Harry ke pedang Gryffindor. Memori itu juga mengungkapkan bahwa Harry sendiri adalah Horcrux — Voldemort tidak akan dapat dibunuh selama Harry masih hidup.

Pasrah akan nasibnya, Harry pergi seorang diri ke Hutan Terlarang di mana Voldemort telah menunggu. Dalam perjalan itu, Harry menemukan petunjuk dari Snitch, yang membuka dan di dalamnya terdapat Batu Kebangkitan. Harry memanggil arwah dari orang tuanya, Sirius Black dan Remus Lupin, yang menenangkan dan menemaninya ke tempat Voldemort. Ia kemudian membiarkan kutukan Voldemort, Avada Kedavra, mengenai dirinya. Harry terbangun di suatu tempat seperti di dunia lain dan tidak yakin apakah ia masih hidup atau sudah mati. Albus Dumbledore muncul dan menjelaskan bahwa bagian jiwa Voldemort yang berada di dalam diri Harry telah dihancurkan oleh kutukan pembunuh itu. Ia menjelaskan juga bahwa seperti Voldemort tidak dapat dibunuh sementara bagian jiwanya masih tersisa, maka Harry juga tidak dapat dibunuh sementara darahnya masih mengalir di tubuh Voldemort. Harry, yang berhasil "mengalahkan maut" dengan menyatukan ketiga Relikui Kematian, mendapat pilihan untuk "meninggalkan dunia" atau kembali hidup di dunia.

Harry hidup kembali, tapi ia berpura-pura telah tewas. Voldemort menyuruh Hagrid untuk membawa Harry ke Hogwarts sebagai tanda kemenangan. Ketika pertempuran memanas kembali, Harry memakaikan dirinya sendiri Jubah Gaib. Neville menarik pedang Gryffindor dari Topi Seleksi dan berhasil memenggal kepala Nagini, menghancurkan Horcrux terakhir. Penduduk desa Hogsmeade, para Centaurus dari hutan, dan para peri rumah Hogwarts ikut masuk dalam pertempuran melawan para Pelahap Maut, yang mulai berbalik kalah unggul dalam jumlah. Di dalam puri, McGonagall, Kingsley, dan Slughorn berduel melawan Voldemort; sementara Ginny, Hermione, dan Luna melawan Bellatrix Lestrange. Ketika sebuah kutukan pembunuh hampir mengenai Ginny, Molly Weasley terjun ke pertempuran, mendorong para gadis menjauh, dan dengan sengit bertempur dengan Bellatrix. Ia berhasil membunuh Bellatrix dengan manteranya. Harry menampakkan dirinya kembali dan menantang Voldemort. Harry berhasil menyimpulkan bahwa Voldemort bukanlah pemilik sejati dari Tongkat Elder. Ketika Draco Malfoy melucuti Dumbledore di Menara Astronomi, Draco tanpa sadar telah menjadi pemilik Tongkat Elder; dan ketika Harry belakangan merebut tongkat Draco, ia sendiri menjadi pemilik baru yang sejati dari Tongkat Elder. Voldemort melemparkan Kutukan Pembunuh kepada Harry yang dilawan Harry dengan Mantera Pelucutan Senjata; namun Tongkat Elder melindungi tuannya sehingga kutukan Voldemort memantul dan berbalik membunuh Voldemort sendiri.

Setelah pertempuran berakhir, Harry mendatangi lukisan Dumbledore. Ia memberitahu bahwa ia akan menyimpan Jubah Gaib itu, tapi untuk mencegah ketiga Relikui Kematian itu bersatu kembali, Batu Kebangkitan akan dibiarkan di tempat ia terjatuh di Hutan Terlarang, dan Tongkat Elder akan dikembalikan ke makam Dumbledore. Jika Harry kelak meninggal tanpa terkalahkan, maka kekuatan Tongkat Elder akan padam seiring dengan kematiannya. Lukisan Dumbledore menganggukkan persetujuannya. Sebelum menempatkan Tongkat Elder kembali ke makam itu, Harry mempergunakannya untuk memperbaiki tongkat sihirnya sendiri yang telah patah.

Epilog

Sembilan belas tahun kemudian, Harry telah menikah dengan Ginny Weasley, dan mereka memiliki tiga anak bernama James Sirius, Albus Severus, dan Lily Luna. Ron dan Hermione juga menikah dan memiliki dua anak, Rose dan Hugo. Keluarga-keluarga itu bertemu di Stasiun King's Cross, di mana Albus akan memasuki tahun pertamanya bersekolah di Hogwarts. James, anak pertama mereka, sudah bersekolah di Hogwarts, sementara Lily baru akan masuk ke Hogwarts dua tahun kemudian.

Anak baptis Harry yang berumur sembilan belas tahun, Teddy Lupin, ditemukan berpapasan dengan Victoire Weasley (putri Bill dan Fleur) di salah satu kompartemen kereta. Teddy tampaknya sangat dekat dengan keluarga Potter, dengan perkataan Harry, "Ia sudah datang untuk makan malam bersama empat kali seminggu."

Harry juga melihat Draco Malfoy dan istrinya bersama putra mereka, Scorpius. Malfoy menganggukkan kepala singkat ke Harry, kemudian pergi.

Harry menenangkan Albus, yang khawatir akan masuk ke Slytherin. memberitahu bahwa Severus Snape, dari mana nama Severus diambil, adalah seorang Slytherin dan ia adalah orang yang paling berani yang pernah ditemuinya. Harry juga membocorkan bahwa Topi Seleksi akan mengikuti pilihan seseorang.

Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi dan berteman baik dengan Harry.

Buku ini diakhiri dengan pengungkapan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit lagi selama sembilan belas tahun sejak Pangeran Kegelapan dikalahkan, dan semuanya berjalan dengan baik.

Pembeberan isi cerita berakhir di sini.

Komentar dan suplemen dari Rowling

Dalam sebuah wawancara[8] dan online chat,[9][10][11] Rowling memberikan informasi tambahan mengenai masa depan dari para tokoh utama yang tidak jadi dituliskannya di bagian epilog. Ia menyatakan:

  • Harry menjadi seorang Auror di Kementerian Sihir dan kemudian diangkat sebagai Kepala Departemennya. Ia tetap menyimpan motor Sirius yang sudah diperbaiki oleh Arthur Weasley, tapi ia sudah tidak lagi bisa berbicara Parseltongue setelah hancurnya bagian jiwa Voldemort yang ada di dalam dirinya.
  • Ginny Weasley bermain untuk tim Quidditch Inggris dan Irlandia, Holyhead Harpies selama beberapa waktu, dan kemudian menjadi jurnalis kepala untuk Quidditch di Daily Prophet.
  • Ron bekerja selama beberapa saat bersama George di tokonya, Weasleys' Wizard Wheezes, dan belakangan menyusul Harry menjadi Auror.
  • Hermione menemui orang tuanya di Australia dan menarik Mantera Perubahan Memori yang dikenakannya kepada mereka. Ia pada mulanya bekerja di Kementrian Sihir pada Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Gaib, secara besar-besaran memperbaiki kehidupan para peri-rumah dan makhluk sejenisnya. Ia belakangan pindah ke Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir dan membantu menghapuskan hukum yang sangat pro-darah murni.
  • Rowling menjelaskan bahwa Albus Dumbledore adalah seorang yang berorientasi gay tetapi mengalami cinta tak berbalas dengan Gellert Grindelwald.[12]

Rowling juga menceritakan tentang masa depan para tokoh lainnya:

  • George Weasley menjalankan toko leluconnya yang sangat berhasil, yang dibantu Ron pada awalnya. George menamai anak pertamanya Fred, mengikuti kembarannya yang telah tewas.
  • Luna Lovegood berpetualang ke berbagai tempat di dunia untuk mencari makhluk-makhluk yang aneh dan unik. Ia akhirnya menikah dengan Rolf, cucu dari seorang naturalis terkenal, Newt Scamander, penulis buku Hewan-hewan Fantastis dan Di Mana Mereka Bisa Ditemukan.[11] Majalah sihir milik ayahnya, The Quibbler, telah kembali ke kondisi biasanya yang "memuat berita-berita aneh" dan dihargai untuk humornya yang tak disengaja.
  • Firenze diterima kembali ke kawanannya, yang akhirnya mengakui bahwa kecenderungannya yang pro-manusia bukanlah sesuatu yang memalukan tetapi terhormat.
  • Dolores Umbridge ditahan, diinterogasi, dan dipenjarakan atas kejahatan terhadap para penyihir kelahiran Muggle.
  • Cho Chang menikahi seorang Muggle.[13]
  • Neville Longbottom akhirnya menikah dengan Hannah Abbott.[14]

Terjadi perubahan besar di dunia sihir secara luas:

  • Kingsley Shacklebolt menjadi Menteri Sihir, dengan Percy Weasley yang bekerja di bawahnya sebagai pejabat tinggi. Salah satu reformasi yang dibuat oleh Shacklebolt, Azkaban tidak lagi mempergunakan Dementor sebagai penjaganya. Hasilnya, dunia menjadi "tempat yang lebih cerah".
  • Harry, Ron, dan Hermione juga telah mewarnai perubahan Kementerian menurut kemampuan mereka masing-masing.
  • Di Hogwarts, Asrama Slytherin menjadi lebih cerah dan tidak lagi menjadi kubu darah-murni sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya. Namun demikian, reputasi gelapnya tetap ada.
  • Kutukan Voldemort atas posisi Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam juga turut lenyap menyusul kematiannya, sehingga sekarang sudah ada guru Pertahanan yang permanen.
  • Lukisan Snape, yang sebentar saja menjabat Kepala Sekolah Hogwarts setelah kematian Dumbledore, tidak muncul di dinding kantor kepala sekolah karena ia meninggalkan posnya. Harry berusaha untuk melobi agar lukisan Snape ditambahkan di sana, dan mengungkapkan kepada semua orang akan kesetiaan Snape yang sesungguhnya.

Ringkasan cerita di sampul buku

Sampul depan versi Britania Raya
Harry Potter and the Deathly Hallows.jpg Deathly hallows adult cover.PNG
Edisi anak-anak Edisi dewasa
Sampul depan dan belakang
Sampul edisi anak-anak
Edisi anak-anak
Sampul edisi dewasa
Edisi dewasa

Edisi Britania Raya

Gambar-gambar sampul buku Harry Potter and the Deathly Hallows disertai dengan ringkasan cerita di bagian dalam dan belakang sampul luarnya[15]:

Di bagian dalam sampul:

“ Harry dibebani dengan tugas yang gelap, berbahaya, dan tampak mustahil: mencari dan menghancurkan Horcrux-Horcrux Voldemort yang tersisa. Tidak pernah Harry merasa sangat kesepian, atau menghadapi masa depan yang sangat suram. Namun Harry harus menemukan kekuatan di dalam dirinya sendiri untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Ia harus meninggalkan kehangatan, keamanan, dan persahabatan di The Burrow dan pergi tanpa takut atau keraguan menjalani garis yang tidak ditawar lagi.

Dalam seri ketujuh, terakhir, dari serial Harry Potter, J.K. Rowling dengan cara yang spektakuler membuka selubung atas jawaban dari berbagai pertanyaan yang telah sangat ditunggu-tunggu. Kisah yang memikat, dianyam dengan lompatan, tikungan, dan putaran yang mendebarkan hati, menegaskan bahwa penulis adalah seorang ratu cerita, yang bukunya akan dibaca, dibaca lagi, dan terus-menerus dibaca.

”

Di sampul belakang:

“ Harry menunggu di Privet Drive. Orde Phoenix datang untuk mengawalnya pergi tanpa tercium oleh Voldemort dan para pendukungnya - jika mereka bisa. Tapi apa yang akan dilakukan Harry selanjutnya? Bagaimana ia bisa memenuhi tugas penting dan tampak mustahil yang ditinggalkan Profesor Dumbledore baginya? ”

Edisi Amerika Serikat

David Saylor, direktur seni di Scholastic, menggambarkan sampul edisi Amerika Serikat sebagai[16][17]:

Gambar ilustrasi
sampul depan dan belakang
Sampul edisi Scholastic
Edisi Amerika Serikat
“ Bangunan di sekeliling Harry menggambarkan dengan jelas kehancuran dan berbayang-bayang di belakangnya, kita dapat melihat ada orang-orang lainnya. Di sampul belakang, tangan seperti jaring laba-laba terulur ke arah Harry. Jika kita membuka buku ini kita akan menemukan sebuah gambar yang mantap dari Dia-Yang-Tak-Boleh-Disebutkan-Namanya, dengan matanya yang merah memancar, memandang dari balik jubahnya. ”

Mary GrandPré, perancang sampul dan ilustrator buku versi AS ini, tidak lagi menggunakan warna monokrom, sebagaimana dalam Orde Phoenix (warna biru) dan Pangeran Berdarah-Campuran (hijau). Ia kembali menggunakan warna-warni seperti pada keempat buku pertama.

Melihat keenam seri Harry Potter sebelumnya, versi Indonesia kemungkinan akan mempergunakan sampul yang sama dengan versi Amerika Serikat.


http://id.wikipedia.org/wiki/Harry_Potter_dan_Relikui_Kematian